Nusantara Symphony Orchestra Menggebrak Jakarta

30 September 2017

Hampir kita lupa, tepat 52 tahun yang lalu Gerakan 30 September memecah keheningan malam di Indonesia. Tapi malam 30 September 2017, Robert Nordling dari Chicago menghentak para hadirin yang memenuhi Ciputra Artpreneur Theater dengan lagu pembukaan instrumental Overture to Die Fledermaus karya J. Strauss, sehingga melukiskan keterpanaan di wajah penonton. Seperti  biasa, J. Strauss menampikan gaya Waltz yang lembut, namun di tengah-tengah lagu penonton dikejutkan dengan hentakan yang cepat dan dinamis. Die Fledermaus yang berarti Sang Kelelawar adalah Singspiel ala Wina, atau “operetta” yang memiliki struktur yang serupa dengan broadway dengan tipe overtur berbentuk “medley” yang memberikan introduksi lagu-lagu yang akan ditampilkan sepanjang operetta.  Di situlah Robert Nordling memperlihatkan kemampuannya mengorkestrasi dan memimpin kepiawaian para pemain yang memang sudah mapan.

Robert Nordling sedang beraksi

Nusantara Symphony Orchestra

Para solois, Aning Katamsi (Soprano), Diani Sitompul (Soprano), Untung Siahaan (Tenor), Harland Hutabarat (Bass), dan Anna Migallos (Soprano) -yang datang khusus dari Filipina, adalah solois yang handal dan berpengalaman. Duet Aning Katamsi dan Harland Hutabarat sangat memukau sehingga terasa lagunya sangat pendek. Anna Migallos membawakan Song to the Moon from Rusalka karya A. Dvorak dengan tenang dan membahana. Babak pertama diisi dengan karya-karya besar dunia yang dikemas dalam dialog merdu para solois, yaitu Giunse alfin il momento... Deh, vieni, non tardar from Le nozze di Figaro karya Mozart, O soave fanciulla from La Boheme karya G. Puccini, Votre toast (Toreanor Song) from Carmen karya G. Bizet, Song to the Moon from Rusalka karya A. Dvorak, Casta Diva from Norma karya V. Bellini, Mira O Norma... Si fino all’ore estreme” from Norma karya V. Bellini.
Para Solois

Babak kedua, seakan tak ingin mengendurkan detak jantung para penonton, disuguhkan dengan lugas E strano!... Ah, fors’e lui... Sempre libera from La Traviata karya G. Verdi Overture to Der Freischutz karya C M. Von Weber, Lippen Schweigen (Merry Widow Waltz) from Die lustige Witwe karya F. Lehar, Un di... Bella figlia dell’amore from Rigoletto karya G.Verdi. Penampilan ditutup dengan lagu Va pensiero from Nabucco karya G. Verdi oleh all singers. Seperti biasa, G. Verdi menampilkan suasana militer. Penonton tidak berhenti bertepuk tangan menunggu lagu tambahan-encore dan dibalas oleh konduktor dan para pemain dengan bungkukan yang dalam. Seluruh lagu yang dipilih oleh Robert Nordling betul-betul sesuai dengan tema pagelaran ini yaitu Most Favorite Opera Arias: Opera-opera terbaik dunia yang abadi sepanjang masa.

Robert Nordling yang telah punya reputasi sebagai konduktor yang “emphatetic, dramatic, and vivid with a fresh and airy quality and a certain elegance” telah menyajikan tampilan yang sedap dipandang mata dan merdu menyapa telinga. Penggemar kopi espresso ini telah merilis beberapa rekaman Beethoven karyanya dan salah satu rekamannya, Mahler Symphony no. 1, memenangkan Telly Award pada Mei 2008. Selain itu ia juga mengajar sejarah musik serta music conducting and appreciation di Calvin College Music Department dan Trinity International University dan juga di beberapa negara lainnya.

Pemberian bunga kepada Robert Nordling

Tribun dipenuhi oleh para pelajar dari berbagai sekolah musik di Jakarta. Keriuhan mereka semakin menghangatkan suasana dan para penonton pasti sepakat bahwa mereka merasa seperti sedang menonton opera sebuah teater di Eropa. Penampilan yang begitu mulus dari para pemain dan kerendahan hati Robert Nordling yang terpancar dari gesturnya selama mengayunkan tongkatnya menciptakan pemandangan yang epik sekalipun disaksikan dari bangku tribun paling atas. Robert Nordling tidak enggan untuk membungkukkan tubuhnya di hadapan para pemain dan memberikan tepuk tangan apresiasi kepada para solois yang telah melaksanakan tugasnya dengan prima. Hal ini tentu menjadi pembelajaran besar bagi pada pelajar musik yang sedang haus dengan kehadiran tokoh yang layak untuk diteladani.
Sari Kusumaningrum Chief Editor PEAK

Nusantara Symphony Orchestra (NSO) telah membuat breakthrough yang menggebrak di kemunculan perdananya tahun ini. Concert master Amelia Tionanda, jebolan Royal Conservatory of Ghent, Belgia, tampil dengan tenang dan penuh percaya diri. Pemain berpengalaman lainnya juga terlihat yaitu Ali Hanapiyah, Asep Hidayat, Harianto Tjoegiopranoto, dan last but not least Eric Awuy pada terompet. Mas Bus Kusmulyono, Pengurus OSN, terbang langsung dari Singapura untuk menyaksikan acara bersama para sahabatnya memenuhi barisan depan dari gedung teater. Beliau juga komisaris PT Bank Mandiri, sponsor utama acara ini. Apresiasi khusus dilontarkan oleh Ibu Miranda S. Goeltom, selaku CEO dari NSO, yang dengan penuh bangga menyampaikan pujian dari Robert Nordling yang sangat terkesan dengan kesiapsediaan para pemain NSO, dimana jadwal latihan yang diagendakan 6 jam sehari cukup diselesaikan dalam 4 jam saja saking “tak perlu dilatih lagi”-nya para pemain NSO ini.

Sahabat Bus dan Odi menyimak Most Favorite Opera Arias 

Bersama besan menikmati konser




Penulis: Arina Zuliany
Blogger Widgets

Ali Audah, Penerjemah Itu


DALAM sebuah tulisan singkat, saya menyebut Ali Audah (1924-2017) sebagai sosok yang tidak mudah diterjemahkan. Ketika itu di Salihara, Jakarta Selatan, berlangsung acara ulang tahunnya yang ke-90. Membaca sosok penerjemah yang tangkas itu sama sekali tidak menimbulkan kesulitan. Ia bukan pribadi yang membuat repot karena "bahasa"-nya sulit, tapi "menerjemahkan"-nya ke dalam sebuah tulisan ringkas tidak mudah saya lakukan. Pak Ali--begitu saya memanggilnya--menunjukkan sikap yang tidak pernah berlebihan: cara bicaranya, gerak-geriknya, tatapan matanya, dan pokok pembicaraannya tidak menimbulkan rasa kikuk.
Dalam sebagian besar tulisan tentang Ali Audah selalu terbaca rasa kagum dan heran atas kemampuannya mendidik diri sendiri di luar sekolah. Bisa dipahami: orang yang hanya berpendidikan formal sampai kelas I madrasah ibtidaiyah (sekolah rakyat/dasar) mampu menguasai beberapa bahasa asing. Bahasa pada dasarnya adalah lisan, tapi penguasaan bahasa di zaman aksara ini juga terletak pada kemampuan merekam yang lisan itu menjadi tulis, suatu keterampilan yang tidak dikuasai banyak orang yang pandai berbicara dalam kampanye politik ataupun dalam perkuliahan. Di samping itu, beberapa jabatan penting, seperti dekan universitas, pemimpin penerbit Tinta Mas, dan ketua pertama Himpunan Penerjemah Indonesia, tentu menambah rasa hormat orang terhadapnya.
Sejak mengenalnya, saya tidak pernah mendengarkannya berbicara berapi-api di hadapan khalayak atau menulis karangan yang kasar nadanya. Dengan sikap dingin, ia pernah ambil bagian dalam suatu polemik panas ketika pada 1960-an sejumlah penulis, antara lain Pramoedya Ananta Toer, menuduh Hamka bahwa novel Tenggelamnya Kapal van der Wijk adalah jiplakan. Ali Audah tidak ikut menjadi panas dalam hal yang tentu dilihatnya sebagai bagian dari langkah politik kaum kiri.
Namun ia tidak mau juga tinggal diam. Maka ia pun menerjemahkan novel Al-Majdulin karya sastrawan Mesir, Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi, yang dianggap sebagai sumber jiplakan Hamka. Langkah penerjemahan itu jelas sebuah tindakan untuk ikut aktif dalam polemik--dengan cara yang sama sekali lain. Ia telah masuk ke situasi sastra-cum-politik dengan cara yang sealur dengan imannya sebagai penerjemah. Sikap politiknya juga terbaca dalam beberapa cerita pendek yang dikumpulkannya dalam, antara lain, Icih. Kita tidak akan menemukan "tanda seru" dalam karya-karyanya.
Ali Audah mula-mula adalah sastrawan yang suka menerjemahkan dan dalam perjalanan hidup selanjutnya berubah menjadi penerjemah yang sesekali menulis karya sastra. Ali berpendapat bahwa karya yang diterjemahkan harus berharga, hasil terjemahannya harus menjadi karya yang berharga pula. Terjemahan sastra bukan sekadar bayang-bayang pucat karya aslinya, tapi merupakan karya baru. Dipandang dengan perspektif ini, karya asli mengalami second existence (kehidupan kedua) yang berharga bagi kelangsungan tradisi kesusastraan.
Imannya pada penerjemahan telah mendasari niat mendirikan Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) bersama rekan-rekannya, antara lain Winarsih Arifin, pada 1974. Dan orang yang sekolah formalnya hanya sampai kelas I sekolah dasar itu memiliki pandangan yang sangat bijak untuk mencerdaskan masyarakat. Setahu saya, pemerintah pun tidak pernah dengan sungguh-sungguh memikirkan membentuk lembaga khusus untuk melaksanakan gagasan mulia yang masuk akal itu. Mungkin saja masyarakat tidak mengingat lagi jasanya sebagai sastrawan, tapi beberapa karya terjemahannya, seperti Konkordinasi Qur'an: Panduan Dalam Mencari Ayat Qur'an, Sejarah Hidup Muhammad karya Husain Haikal dan The Holy Qur'an: Text, Translation and Commentary karya Abdullah Yusuf Ali, satu di antara dua terjemahan Quran dalam bahasa Inggris yang paling banyak dibaca di samping tafsir karya Marmaduke Pickthall.
Tentu karena kebiasaannya menulis sastra, terjemahannya menunjukkan keterampilan berbahasa yang tinggi. Sejarah Hidup Muhammad adalah contoh kepiawaiannya menerjemahkan ke bahasa Indonesia yang lancar, yang berhasil mengalihkan pesan dalam bahasa aslinya. Menurut Ali, keterampilan itu bukan bakat, melainkan hasil usaha yang terus-menerus dilakukannya dalam menguasai bahasa. Pandangan ini penting terutama dalam kaitannya dengan penerjemahan karya sastra. Betapapun tingginya penguasaan bahasa asli, tanpa keterampilan berbahasa, sasaran hasil terjemahan boleh dikatakan sia-sia. Ali Audah pernah menjelaskan bahwa pengalihan verbatim pasti menghasilkan terjemahan buruk, tapi ia juga berpendapat bahwa penerjemahan "liar" yang tidak mempedulikan gagasan pengarang asli juga haram.
Pandangan serupa disampaikan Yusuf Ali. Menurut juru tafsir itu, penerjemahan adalah not a mere substitution of one word for another. Dan saya pun belajar tentang itu dari Ali Audah ketika pada 1990-an diminta membantunya menerjemahkan karya Yusuf Ali tersebut. Saya waktu itu merasa ada yang aneh dalam sikap Ali Audah. Ia tahu bahwa saya tidak menguasai bahasa Quran. Namun rasa aneh itu langsung terhapus ketika dijelaskannya bahwa yang diminta adalah "hanya" menerjemahkan apa yang disebut oleh Yusuf Ali sebagai running commentary yang ditulis dalam bentuk puisi yang disisipkan di sela-sela surah dan ayat.
Running commentary merupakan tanggapan kreatif Yusuf Ali terhadap kitab yang diterjemahkannya, yang tersebar di semua teks terjemahan. Ada 300 sajak yang masing-masing diberi penanda C olehnya. Saya senang mendapat tugas tersebut karena tentu akan mendapat kesempatan berguru kepadanya. Menerjemahkan puisi biasa saya lakukan, tapi baru waktu itu menghadapi puisi yang tidak bisa, dan tidak boleh, dipisahkan dari Quran. Teks terjemahan ditulis dengan font yang ukurannya lebih besar daripada commentary-nya, agar segera diketahui bahwa commentary adalah bayang-bayang substansinya.
Rasa gamang saya pun muncul. Yang harus saya terjemahkan adalah bayang-bayang terjemahan Quran yang olehnya disebut sebagai substansi. Dalam proses penerjemahan itulah, yang berlangsung bertahun-tahun, Ali Audah dengan sangat cermat membaca, memberi komentar, dan dengan hati-hati mengusulkan perbaikan. Dan terjadilah tawar-menawar pilihan kata, istilah, dan frasa yang bagi saya merupakan pelajaran berharga dari seorang maestro.
Ketika memberikan sambutan dalam peringatan 90 tahun, Ali Audah sempat menyelipkan kisah ini. Di tempat tinggalnya di kompleks Bogor Baru, Jawa Barat, ia didatangi beberapa orang muda yang meminta masukan tentang nama masjid yang baru dibangun. Ia mengusulkan nama Masjid Bogor Baru, tapi mereka menganggap nama itu tidak sesuai untuk sebuah masjid. Maka Ali Audah pun mengatakan, agar sesuai, disebut saja Masjid Al-Bogor Baru.
Konon ia, bersama Andi Hakim Nasution, juga pernah menyarankan agar masjid tidak menggunakan pengeras suara, cukup suara bilal. Tidak perlulah apa sarannya itu dilaksanakan, tapi jelas hal tersebut mencerminkan sikapnya terhadap pelaksanaan agama dalam lingkungannya yang mungkin saja khas.
Sapardi Djoko Damono,
Guru, Sastrawan
Dikutip dari rubrik Obituari Majalah Tempo Edisi 9 Juli 2017

Kelly Tandiono Tiga Pelatih



SATU keinginan Kelly Tandiono, 30 tahun, terwujud. Cita-citanya naik podium dan memboyong piala lomba triatlon kesampaian. Model yang juga aktris ini menjadi juara ketiga Bengkulu Triathlon 2017 pada akhir Juli lalu. "Dapat piala dan uang tunai," katanya Selasa tiga pekan lalu.
Namun bukan hadiah itu yang membuat mentor sekaligus juri Asia’s Next Top Model musim 4 ini bolak-balik menjajal lomba triatlon-yang menggabungkan lari, berenang, dan bersepeda-sejak tahun lalu. Kelly mengaku sejak kecil sudah doyan aktivitas yang memicu adrenalin itu. Ia keranjingan mengikuti berbagai perlombaan olahraga, seperti lari dan berenang."Dari kecil suka ikutan kompetisi. Kenapa tak dikombinasikan tiga-tiganya?" ujar pemeran film Labuan Hati ini.
Kelly tak main-main mengikuti kompetisi ini. Ia menyewa tiga pelatih sekaligus untuk membantunya mencapai target."Karena tiga-tiganya harus fokus," katanya.Sebulan sebelum pertandingan digelar, Kelly mulai tancap gas berlatih. Latihannya makin digiatkan dua pekan sebelum perlombaan.
Kelly sudah mengikuti Sungailiat Triathlon 2016 dan 2017 serta Bengkulu Triathlon 2017. Ia juga berencana mengikuti Herbalife Bali International Triathlon, yang akan dilaksanakan bulan depan.Targetnya tak berubah: ia ingin kembali naik ke podium.

SATU keinginan Kelly Tandiono, 30 tahun, terwujud. Cita-citanya naik podium dan memboyong piala lomba triatlon kesampaian. Model yang juga aktris ini menjadi juara ketiga Bengkulu Triathlon 2017 pada akhir Juli lalu. "Dapat piala dan uang tunai," katanya Selasa tiga pekan lalu.
Namun bukan hadiah itu yang membuat mentor sekaligus juri Asia’s Next Top Model musim 4 ini bolak-balik menjajal lomba triatlon-yang menggabungkan lari, berenang, dan bersepeda-sejak tahun lalu. Kelly mengaku sejak kecil sudah doyan aktivitas yang memicu adrenalin itu. Ia keranjingan mengikuti berbagai perlombaan olahraga, seperti lari dan berenang."Dari kecil suka ikutan kompetisi. Kenapa tak dikombinasikan tiga-tiganya?" ujar pemeran film Labuan Hati ini.
Kelly tak main-main mengikuti kompetisi ini. Ia menyewa tiga pelatih sekaligus untuk membantunya mencapai target."Karena tiga-tiganya harus fokus," katanya.Sebulan sebelum pertandingan digelar, Kelly mulai tancap gas berlatih. Latihannya makin digiatkan dua pekan sebelum perlombaan.
Kelly sudah mengikuti Sungailiat Triathlon 2016 dan 2017 serta Bengkulu Triathlon 2017. Ia juga berencana mengikuti Herbalife Bali International Triathlon, yang akan dilaksanakan bulan depan.Targetnya tak berubah: ia ingin kembali naik ke podium.
SATU keinginan Kelly Tandiono, 30 tahun, terwujud. Cita-citanya naik podium dan memboyong piala lomba triatlon kesampaian. Model yang juga aktris ini menjadi juara ketiga Bengkulu Triathlon 2017 pada akhir Juli lalu. "Dapat piala dan uang tunai," katanya Selasa tiga pekan lalu.
Namun bukan hadiah itu yang membuat mentor sekaligus juri Asia’s Next Top Model musim 4 ini bolak-balik menjajal lomba triatlon-yang menggabungkan lari, berenang, dan bersepeda-sejak tahun lalu. Kelly mengaku sejak kecil sudah doyan aktivitas yang memicu adrenalin itu. Ia keranjingan mengikuti berbagai perlombaan olahraga, seperti lari dan berenang."Dari kecil suka ikutan kompetisi. Kenapa tak dikombinasikan tiga-tiganya?" ujar pemeran film Labuan Hati ini.
Kelly tak main-main mengikuti kompetisi ini. Ia menyewa tiga pelatih sekaligus untuk membantunya mencapai target."Karena tiga-tiganya harus fokus," katanya.Sebulan sebelum pertandingan digelar, Kelly mulai tancap gas berlatih. Latihannya makin digiatkan dua pekan sebelum perlombaan.
Kelly sudah mengikuti Sungailiat Triathlon 2016 dan 2017 serta Bengkulu Triathlon 2017. Ia juga berencana mengikuti Herbalife Bali International Triathlon, yang akan dilaksanakan bulan depan.Targetnya tak berubah: ia ingin kembali naik ke podium.
Dikutip dari rubrik Pokok dan Tokoh Majalah Tempo Edisi 11 September 2017.

Sri Mulyani Indrawati


SEBUAH cangkir putih bertulisan "Mrs. Always Right" sudah cukup menjadi bentuk protes putra-putri Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, 54 tahun. Pesan itu kurang lebih bermakna nyonya yang selalu benar.
Ani panggilan Sri Mulyani bercerita, cangkir tersebut adalah hadiah dari ketiga anaknya, yakni Dewinta Illinia, Adwin Haryo Indrawan, dan Luqman Indra Pambudi. "Mereka bilang ibu pasti senang kalau disebut Mrs. Always Right," katanya di kantor Tempo, Selasa dua pekan lalu.
Menteri kelahiran Lampung itu mengaku kerap berdebat dengan anak-anak meski menyangkut hal yang remeh sekalipun. Tapi ia enggan disebut tak mau mengalah bila berdiskusi di tengah keluarga. "Biasalah kalau orang tua dengan anak itu selalu saja ada perdebatan," ujarnya, lantas terbahak.
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menduga anaknya sengaja memilih cangkir dengan pesan khusus tersebut karena melihat peran ibunya di kantor dan di rumah. Maklum, sebagai bendahara negara, ia harus sering terlibat diskusi yang sengit agar neraca keuangan tetap sehat.
Tak ada perlakuan istimewa dari Sri Mulyani terhadap buah tangan cangkir itu. Alih-alih menyimpannya di lemari, ia justru memakainya di kantor. Dengan memakainya, ia merasa diingatkan, seperti ketika ia membaca pesan pada suvenir yang sering dijumpai ketika bertugas ke London bertulisan "Don’t worry, you are only fifty". "Pesan itu adalah pengingat agar hidup kita bahagia," tuturnya.

Dikutip dari rubrik Pokok dan Tokoh Majalah Tempo Edisi Paradoks Amir Hamzah 14 Agustus 2017.

Intel Belanda atau Menahan Jepang

DATUK Hafiz Haberham kepayahan juga mengerjakan aneka perintah Asisten Residen Deli dan Serdang A.R. Treffers. Pada April 1942, bangsawan Kesultanan Deli, Sumatera Utara, itu sudah tujuh bulan membuat rakit bambu yang diruncingkan dan dipasang vertikal di sepanjang pesisir pantai Langkat-Asahan sepanjang 288 kilometer. Nama Datuk Hafiz tercatat sebagai salah satu anggota agen rahasia Belanda yang bertugas menahan masuknya pasukan Jepang ke Sumatera Timur. Hafiz bahkan mengepalai organisasi yang bernama Siap Sedia (SS) itu. Ia merekrut sejumlah bangsawan dari beberapa kesultanan sebagai anggotanya. Salah satunya Amir Hamzah, menantu Sultan Langkat yang menjabat kepala luhak, setingkat camat, di Teluk Haru di Pangkalan Brandan. Dalam sebuah laporan intelijen kepada pemerintah Belanda pada 1947, Hafiz menulis bahwa para anggota organisasi rahasia itu sudah terbentuk dan tersebar di beberapa kesultanan. "Datuk Hanafi di Tanjung Balai dan Tengku Amir Hamzah di Langkat," tulisnya. Dokumen dalam bahasa Belanda itu kini tersimpan di Arsip Nasional. Dengan agak detail, Hafiz melaporkan bahwa anggota-anggota elite dinas rahasia itu tak mengangkat sumpah setia kepada Belanda, seperti agen lain. "Karena mereka itu akan bekerja langsung di bawah saya," tulis Datuk Hafiz. Para intel SS, kata Hafiz, memiliki tanda khusus, yakni uang kepeng bergarit "V". Ia bersaksi bahwa, selama kepemimpinannya, setidaknya 700 kepeng lencana ia keluarkan. "Permintaan lain tidak bisa saya berikan karena kehabisan uang sen," ucapnya. Dengan kata lain, Hafiz mengklaim jumlah anak buahnya mencapai ribuan. Organisasi rahasia itu bermula pada September 1941. Enam bulan sebelum pasukan Jepang mendarat di Sumatera Timur, Treffers mengajak Datuk Hafiz bersekoci dari Hamparan Perak ke Belawan. Di atas sekoci, Treffers memintanya membuat rintangan untuk menghambat pendaratan pasukan Jepang. "Walaupun Belanda kalah, saya dianjurkan tetap berpendirian sebagai warga negara Belanda," kata Datuk Hafiz. Empat bulan kemudian, Datuk Hafiz membentuk korps pengawal negeri (landwachten). Menurut Tengku Lah Husny, adik kandung Saidi Husny, kawan sepermainan Amir sejak kecil, dalam Biografi Sejarah Pujangga dan Pahlawan Nasional Amir Hamzah, landwachten itu aktif bertempur melawan serdadu Jepang. Amir, kata Lah Husny, menjadi salah satu pemimpin pasukannya. Sultan Mahmud yang meminta menantunya masuk korps itu. Sultan juga menunjuk adiknya sendiri, Tengku Harun, agar ikut bertempur. "Amir Hamzah dan Tengku Harun mendapat pangkat sersan dan masing-masing mengepalai pasukan kecil," demikian ditulis Lah Husny. Sebelum bertempur, Amir mendapat pelatihan militer selama 14 hari di Pulo Brayan-kini masuk Kecamatan Medan Barat. Ia dan Tengku Harun baru berperang ketika Jepang menyerbu Sumatera Timur pada Maret 1942 melalui muara-muara sungai. Dalam sebuah penyergapan, Tengku Harun mendapat tugas meledakkan titian Tanjung Pura untuk menahan laju pasukan Jepang. Menurut Lah Husny, Harun menolak perintah Belanda karena tak ingin jembatan itu hancur. Agar tidak terkesan memberontak, ia mengajukan laporan palsu: alat peledaknya tidak bekerja. Pasukan Amir dan Tengku Harun tidak mampu bertahan. Serdadu Jepang mendesak ke daratan hingga pasukan Amir mundur ke Gunung Setan, dekat Bukit Barisan. Anak buahnya meminta Amir membatalkan kontrak sukarelawan dengan Belanda karena melanggar janji membantu saat terpojok. Amir menolak. Ia meminta para serdadu itu kabur sendiri-sendiri. Kepada opsir Belanda, Amir melapor anak buahnya sedang pulang mengambil persediaan pakaian. Belanda, kata Lah Husny, lalu meminta Amir ke Medan dengan pasukan seadanya. Dalam pertempuran di Gunung Setan, Amir dan pasukannya hanya bisa bertahan sebulan. Jepang menahan mereka di kamp Lau Segala. Amir dan pasukannya disuruh mengangkut balok-balok kayu untuk perlindungan tentara Jepang. Baru pada 1943, Amir bebas dari kerja paksa itu atas permintaan Sultan Mahmud. Anthony Reid, peneliti sejarah Asia Tenggara yang mengajar di Australian National University, juga mencatat para bangsawan yang menjadi intel-intel Belanda di masa pendudukan Jepang. Sumatera Timur pada 1940-an, kata Reid, adalah wilayah yang terbelah. Pegawai pemerintah yang berasal dari elite kesultanan memihak Belanda, sedangkan rakyat biasa menentangnya. Kelompok anti-kesultanan memakai Jepang untuk mengakhiri kekuasaan feodal. "Kedua belah pihak mencoba menggunakan Jepang dan Sekutu buat keuntungan mereka masing-masing," kata Reid lewat pesan elektronik kepada Tempo pada akhir Juli lalu. Sepupu Amir, Tengku Saridjat, yang kini 81 tahun, tak memungkiri Kesultanan Langkat mendukung Belanda. Saking dekatnya, menurut dia, setiap ada pesta dansa, Sultan Mahmud selalu mengundang tamu-tamu kolonial. "Kami yang masih kecil sering melihat, tapi tidak boleh ikut," kata Saridjat di Medan pada akhir Juli lalu. Saridjat baru berusia 14 tahun ketika itu. Menurut dia, kedekatan keluarga Sultan Langkat dengan Belanda juga terjadi karena keduanya punya kontrak pengeboran minyak bumi di Telaga Said, dekat Pangkalan Brandan, yang digarap Royal Dutch Shell. Dari kontrak itu, Reid menulis dalam Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatra, Sultan Mahmud memperoleh pendapatan pribadi hingga 472.094 gulden, jauh di atas pendapatan Sultan Deli-Serdang, yang terkenal kaya. Pada 1933, kekayaan Sultan Mahmud mencakup 13 mobil, satu sekoci pesiar yang tidak terpakai, dan kuda-kuda pacu. Ketimpangan antara kalangan kesultanan dan rakyat jelata itu makin meruncingkan sentimen anti-kesultanan, terutama sepanjang 1942, menjelang pendaratan Jepang di Sumatera Timur. Salah satu tokoh pemuda di Langkat, Jacob Siregar, mengaku berkunjung ke Penang, Malaysia, untuk menemui Fujiwara Kikan, organisasi intelijen Jepang di bawah pimpinan Mayor Fujiwara Iwaichi. Jacob hendak mencari dukungan Jepang untuk menghancurkan Kesultanan. Pada saat bersamaan, Belanda meminta Sultan Langkat dan keluarganya menghalau Jepang. Kempetai, polisi militer Jepang, menangkap Treffers dan mengeksekusinya pada 12 Maret 1942. Para intelijen anggota SS juga ditangkap dan dimasukkan ke penjara. Datuk Hafiz dan sejumlah pemimpin Siap Sedia baru keluar dari bui setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945. Keluar dari penjara, Datuk Hafiz menghubungi Amir Hamzah dan anggota dinas rahasia Belanda untuk menghidupkan kembali SS dengan nama Pasukan Ke-5. Sebetulnya pasukan ini merupakan respons Hafiz terhadap makin kuatnya Pemuda Sosialis Indonesia di bawah pimpinan Sihite. "Saya khawatir Pesindo menjadi kekuasaan terkokoh di daerah ini," tulis Hafiz. Revolusi sosial keburu meledak di Sumatera Timur pada Maret 1946. Kombatan SS kembali terberai. Pada 1947, Datuk Hafiz bergabung dalam komite yang mendirikan Negara Sumatera Timur, negara bagian Republik Indonesia Serikat boneka Sekutu-Belanda. Amir, sementara itu, sudah wafat setahun sebelumnya dieksekusi anggota Pesindo. Dikutip dari Laporan Utama Majalah Tempo Edisi Paradoks Amir Hamzah 14 Agustus 2017