Perjalanan ke Sumba

Telah lama kami mendengar banyak keindahan alam dan budaya Sumba. Pada tanggal 26 November 2017 kami terbang selama 1 jam lebih ke Tambolaka, Waikabubak, setelah sebelumnya transit di Bandara El Tari, Kupang. Kami menginap di Hotel Sumba Sejahtera di Jalan Sapurata, Klena Wano, Kota Tambolaka, Kab. Sumba Barat Daya. Di airport kami dijemput oleh supir merangkap tour guide, Jhonny (081246086431) dan ia mengantar kami ke seluruh pelosok Sumba selama 6 hari. Suasana Sumba yang khas adalah padang rumput yang luas, sabana, pantai yang indah, alang-alang, dan kuda peliharaan di tempat terbuka. Penduduk Rote tinggal di rumah dengan atap terbuat dari daun lontar, sementara penduduk Sumba membuat atap rumah dari alang-alang.

Kami mengunjungi pantai yang sangat indah, Pantai Bawana, yang untuk mencapainya harus melewati tebing yang terjal sehingga banyak turis memilih untuk menikmati pemandangan dari Tanjung Mareha yang terletak di sebelah Pantai Bawana. Dari atas sana juga tampak keindahan Watu Maladong, Karang Bolong yang berbentuk seperti bukit kecil. Kami juga mengunjungi Kampung Adat Ratenggaro, sebuah kampung budaya yang masyarakatnya masih mempertahankan bentuk rumah adat asli Sumba. Kampung Ratenggaro terletak di Kecamatan Kodi Balaghar, Kab. Sumba Barat.

Di Sumba terdapat sekolah perhotelan bernama Sekolah Hotel Sumba asuhan Sumba Hospitality Foundation (SHF), sumbangan masyarakat Belgia dengan manajemen profesional dari mancanegara. Biaya pendidikannya hanya Rp 100.000 per bulan, dengan sistem boarding school, sehingga semua siswa menginap di sekolah dan ditanggung makan 3 kali sehari. Jadi sebetulnya biaya itu hanya untuk menunjukkan kesungguhan saja. Pelajaran masak gurunya dari Itali dan pelajaran Bahasa Inggris gurunya dari Amerika.

Selanjutnya kami melihat Bukit Ledongara, kemudian ke kesusteran Katolik membeli barang-barang khas Sumba terutama Jambu Mete. Lalu kami ke Danau Weekuri dan mengunjungi Pantai Mandorak. Di Sumba Barat kami mengunjungi Nihi Watu Resort, sebuah penginapan yang menjual kemewahan dan eksklusivitas dengan tarif USD 1000 per malam. Kami juga menyempatkan diri mengunjungi Desa Adat Tarung yang baru terbakar beberapa waktu yang lalu. Kepala sukunya, Rato, baru menikah dengan Miranda Risang Ayu, dosen terkemuka di Universitas Padjadjaran, Bandung. Kami juga mengunjungi pusat tenun Ama Tukang sebab Sumba terkenal dengan tenunnya yang indah dan bermutu tinggi. Tenun Sumba sekarang terkenal karena dipromosikan oleh Dian Sastro Wardhoyo. Tenun Sumba dengan bahan pewarna kimia harganya sekitar Rp 750.000, yang menggunakan pewarna organik harganya mulai Rp 1.250.000 ke atas. Ama Tukang menyediakan tenun ikat tradisional Sumba Timur dan Pahikung. Alamatnya di Jalan Hayam Wuruk no. 53 Kallu-Kaburu, Waingapu, Kab. Sumba Timur. Anda dapat menghubungi pusat tenun ini di nomor 085237474140. Di sini juga ada homestay Ama Tukang, tarifnya Rp 200.000 per malam sudah pakai aircon. Anda dapat memesan kamar dengan menghubungi nomor berikut 081236225231.

Kami makan malam di restoran terbaik di Tambolaka, namanya Warung Gula Garam.  Resto ini didirikan oleh Louis Parera, seorang Prancis-Portugal. Alamatnya di Bandar Udara Tambolaka Sumba Barat Daya telp 0387 2524019 atau 081236724266. FB: WARUNG GULA GARAM.

Tidak diragukan Pulau Sumba mempunyai masa depan yang sangat cerah.

Setelah selesai acara di Pulau Sumba kami kembali ke Jakarta dan mengurungkan rencana ke Bali karena situasi Gunung Agung. Penerbangan Waingapu sampai Jakarta sangat melelahkan, kami menempuhnya selama 18 jam melalui 3 kali delay di Waingapu, Kupang, dan Surabaya. Mungkin saran untuk ke Indonesia Timur sebaiknya menggunakan pesawat direct ke Kupang.

Koleksi foto:


Pantai Kita Sumba

Danau asin Weekuri

Nihi Watu Resort

Pantai Nihi Watu

Padang Savana

Penggembala kuda

Tenun Sumba Timur terkenal mutunya

Warung Gula Garam

Homestay Ama Tukang Rp 200.000 per malam pakai aircon

Akar mengkudu pewarna kain 

Dengan Rato, Kepala Suku Tarung

Pantai Mandorak

Pantai Mandorak

Tanjung Mareha

Kampung Rende

Loncatan di Savana

Sawah tadah hujan

Padang Savana dengan kuda

Perekatan tenun

Makan-makan di dermaga Kupang

Anak di Sumba Timur

Bukit Wairinding

Bukit Wairinding

Bukit Wairinding

Dengan Herman, Pantai Bawana

Pantai Indah Sumba Bawana

Tidak bisa lagu Indonesia Raya tapi bisa lagu ini






Blogger Widgets

Perjalanan Ke Rote

Pada tanggal 23 November 2017 saya dan istri terbang ke Kupang. Kami mendarat di Bandara El Tari setelah menempuh perjalanan selama 3 jam dengan Batik Air. Pesawat yang kami tumpangi transit selama 2 jam di sana, kemudian kami melanjutkan penerbangan ke Pulau Rote selama 15 menit dan mendarat di Bandara DC Saundale, Rote. Di airport kami dijemput oleh pengendara taksi yang cekatan dan ramah, Vincent namanya. Anda bisa menghubungi Vincent di nomor 08113821107 jika ingin diantar jalan-jalan Rote juga lain kali.

Kami langsung menuju penginapan Lualemba Bungalows dan menginap di sana selama 2 malam. Sepanjang perjalanan banyak pohon lontar, pohon jambu mete, babi, sapi, dan kambing. Konon kabarnya babi hanya dimakan pada saat upacara adat. Kami beruntung sudah mulai musim hujan sehingga padang sabana mulai terlihat hijau. Lualemba Bungalows terletak 64 km dari airport. Memang pantai Lualemba adalah pariwisata yang bagus di Pulau Rote. Banyak wisatawan mancanegara datang untuk mencari ombaknya.

Kami kaget karena supir taksi tidak dapat menemukan Lualemba Bungalows, karena tidak memasang papan nama. Letaknya dekat dengan bibir pantai, sekitar 600 m saja, dan tidak memasang papan nama. Setelah kami menemukan lokasinya, kami membuka sendiri pintu gerbangnya. Kemudian mobil masuk dan berhenti di depan restaurant reception. Saya bingung, siapa yang di reception ini? Tidak ada siapa-siapa. Kemudian muncullah seorang wanita Rote, namanya Janet, istri dari David, seorang carpenter dari Australia. Ternyata ia adalah pemilik Bungalow tersebut. Tanpa basa-basi dan tanpa menanyakan identitas kami, langsung diberikan kunci kamar.

Bungalownya sederhana tanpa aircon, kamar mandinya di luar, tarifnya Rp 1.000.000 per malam termasuk makan 3 kali sehari. Penghuninya 90% adalah peselancar dari mancanegara. Kata Janet, hotel itu laku karena suaminya gila. Tamu yang kehabisan uang bisa bayar kapan-kapan. besoknya kami pun menyewa motor matic Rp 75.000 karena Pulau Rote kecil dan mudah untuk dikitari. Mengendarai motor adalah pengalaman yang menyenangkan setelah puluhan tahun saya dan istri tidak pernah berboncengan. Kami pun mengendarai motor secara bergantian. Untungnya jalanan di sana sepi sehingga kami bebas meliuk-liuk membawa motor sambil kagok-kagok sedikit.

Alamat Lualemba Bungalows: Pantai Nemberaki, dimiliki dan dioperasikan oleh Jenet dan David Ralph 081237404137 atau 081239478823. Email: lualembarote@gmail.com. Website: www.lualemba.com

Kami mengunjungi pusat tenun tradisional Rote di Baa, Ibukota Rote. Posisinya di sebelah kali. Harga tenun berkisar dari Rp 250.000 - Rp 500.000. Tenun Rote bernuansa hitam dan merah. Ciri khas Pulau Rote adalah tanaman lontar yang dipakai sebagai atap dan alat musik khas Rote Sasando. Mereka juga membuat gula merah yang terkenal dari nira pohon lontar.

Koleksi Foto

Seeds Resort Pantai Lua Lemba

Sasando khas Pulau Rote terbuat dari daun lontar

Penyeberangan ke pulau terluar, Pulau Ndana dekat Darwin
Sunsets di Pantai Nemberala


Membagikan ballpoint ke anak-anak

Bungalow sederhana di Lualemba

Danau tua di Pulau Rote

Pantai Nelayan Lualemba

Daun kelor, sayur sehari-hari masyarakat Pulau Rote

Rumah tua Pulau Rote

Rumah Tua Pulau Rote

Pantai khas Rote

Karang Bolong Pulau Rote

Dermaga penyeberangan ke pulau terluar

Lelah Mengasyikkan


Vokalis jazz Imelda Rosalin Simangunsong (45) merasa selalu membutuhkan waktu untuk latihan bersama apabila akan tampil di panggung. Meski terasa melelahkan, dia tetap meluangkan waktunya.
“Grup enggak boleh bongkar pasang pemain. Sulit menjadi grup yang solid kalau kita tidak mau sama-sama menyisihkan waktu untuk latihan. Sejago apa pun pemainnya, kekompakan bermain musik sangat diperlukan, apalagi main musik jazz,” kata Imelda seusai acara Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Financial Club untuk subsektor musik di Bandung, Jawa Barat, Selasa (21/11).
Imelda bersama grupnya, Salamander Big Band, sedang mempersiapkan konser jazz Tribute to Riza Arshad di Institut Teknologi Bandung yang digelar pada Kamis (23/11). Riza adalah musisi kelas dunia yang sering menjadi mentor bagi musisi-musisi muda. Konser ini digelar memperingati ulang tahun ke-11 Salamander Big Band.
Imelda mengatakan, big band ini punya personel yang tidak seperti band lain. Jumlah personel mencapai 30 orang.
“Kami enggak pernah menunggu job untuk pentas, tetapi secara rutin menggelar konser. Paling tidak, 3 sampai 4 kali setahun. Kebetulan di Bandung, kami punya banyak pemain alat tiup yang mempunyai skillcukup bagus. Personel big band dituntut tidak hanya bisa bermain jazz, tetapi juga lancar membaca not balok,” ujar Imelda yang juga salah satu pendiri Yayasan Bandung Musik Indonesia. (OSA)

Dikutip dari Kompas edisi 22 November 2017

Bertemu Para Komodo



Bisa lihat komodo? Tanya seorang kawan lewat aplikasi percakapan saat diberitahukan kepadanya ihwal operator wisata yang melayani pelesiran ke sejumlah pulau dalam kawasan Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Kerumunan ikan tersebar di titik penyelaman Batu Bolong, Kawasan Taman Nasional Pulau Komodo, Manggarai Barat, saat tim Ekspedisi Terumbu Karang Kompas melakukan penyelaman, Rabu (30/8).
FOTO-FOTO: KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Kerumunan ikan tersebar di titik penyelaman Batu Bolong, Kawasan Taman Nasional Pulau Komodo, Manggarai Barat, saat tim Ekspedisi Terumbu Karang Kompas melakukan penyelaman, Rabu (30/8).
Pertanyaan itu, bisa dijawab “iya” pada waktu-waktu tertentu, dan “tidak” pada masa lainnya. Musim kawin komodo (Varanus komodoensis), dengan puncaknya pada Juli-Agustus adalah sebabnya.
 Komodo yang ditemui di Kawasan Taman Nasional Komodo.
Komodo yang ditemui di Kawasan Taman Nasional Komodo.
Pada saat itu, komodo akan cenderung menghilang dari peredaran untuk kawin. Selain itu, fakta bahwa komodo hidup di alam liar juga menambah ketidakpastian.
Trekking atau berjalan berkeliling untuk melihat komodo menjadi salah satu kegiatan di Taman Nasional Pulau Komodo.
Trekking atau berjalan berkeliling untuk melihat komodo menjadi salah satu kegiatan di Taman Nasional Pulau Komodo.
Namun, tetap saja, banyak wisatawan berdatangan untuk menjumpai satwa purba tersebut karena berdekatan dengan masa liburan sekolah. Biasanya pula, ada saja individu satwa purba tersebut ditemukan. Seperti saat kami mampir ke Pulau Komodo yang ditumbuhi pepohonan asam, lontar, bidara, dan gebang persis di pengujung musim kawin pada Kamis (31/8) lalu.
Kapal-kapal yang mengantar wisatawan bersandar di sekitar Pantai Merah atau “Pink Beach”.
Satu individu kami temukan tak jauh dari gerbang Loh Liang sebagai pintu masuk Taman Nasional Komodo. Tiga individu lain kami temukan di sekitar kawasan penginapan untuk keperluan riset yang dinaungi sejumlah jenis pepohonan.
Wisatawan menikmati Pantai Merah.
Wisatawan menikmati Pantai Merah.
Di antara temuan itu, sejumlah jejak kotoran komodo berupa feses berwarna putih dengan bulu- bulu hitam mencuat teronggok di beberapa sisi jalur pendakian. Warna putih diduga berasal dari tulang satwa yang dimangsa, mengingat komodo melumat utuh setiap makanannnya, dan bulu-bulu hitam diduga jejak keberadaan unggas atau burung yang dilahapnya.
Empat individu komodo itu diperkirakan berusia di atas 30 tahun. Perilaku mereka yang seakan tidak peduli pada pengunjung, hanya berbaring leyeh-leyeh, dan tidak turut hiruk-pikuk musim kawin diduga karena masing-masing merasa tak lagi sanggup bersaing.
Rafael Foan Aryzona Putra yang akrab disapa Aryz, petugas Taman Nasional Komodo yang menemani kami mengambil rute trekking jalur pendek, mengatakan, pada umur segitu, hasrat komodo untuk kawin mungkin kalah oleh individu lebih muda. Masa hidup komodo antara 40 tahun dan 50 tahun. Populasi jantan dan betina dalam perbandingan 4 : 1 menambah kepelikan itu. Aryz menyebutkan, terdapat 1.337 komodo di Pulau Komodo, 1.473 ekor di Pulau Rinca, 4 ekor di Pulau Padar, 90 ekor di Pulau Gilimotang, dan 80 ekor di Pulau Nusakode.
Padahal, kawasan yang ditetapkan sebagai taman nasional sejak 1980 dan pada 1986 sebagai World Heritage Site and a Man and Biosphere Reserve oleh UNESCO pada 1986 itu tidak hanya menyimpan eksotisme komodo. Kakaktua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea parvula), yang empat ekor di antaranya juga kami temukan tengah bertengger di atas pohon gebang (Corypha utan) adalah spesies yang populasinya juga diawasi ketat.
Melayari Komodo
Berlayar menuju sejumlah pulau, dan tentu saja titik-titik penyelaman, dalam kawasan tersebut adalah keputusan terbaik yang bisa diambil untuk bersenang-senang di daratan dan lautan Komodo. Kami memutuskan menumpang dua jenis kapal berbeda dan beraktivitas selama 24 jam (liveaboard), masing-masing selama 3 hari 2 malam, di kedua kapal tersebut.
Pertama Kapal Layar Motor (KLM) Adishree berjenis pinisi pada 28-30 Agustus, dan KLM Kalaki yang termasuk pelayaran rakyat pada 31 Agustus-2 September. Tarif resmi KLM Adishree untuk program 3 hari 2 malam adalah 6.500 dollar AS, sedangkan durasi sama untuk KLM Kalaki adalah Rp 15 juta.
Kapten Adishree Nasrul Nasir (35) menyebut, sejauh ini jadwal pelayaran kapal itu selalu penuh. Sejak beroperasi Mei 2016, Adishree hanya menjalani satu kali docking selama sepekan pada Februari lalu.
Itu pun bukan masa libur bagi Nasrul. Ia tetap bekerja dengan mengawasi perbaikan minor itu sembari turut menggosok badan kapal, memperbarui cat, dan sebagainya.
“Penuh terus. Belum pernah libur,” ujar Nasir. Ia seolah hendak menunjukkan geliat pariwisata di kawasan itu yang tengah berkembang.
Para tamu didominasi wisatawan dalam negeri. Adapun tamu asing berasal dari Amerika, Jepang, dan Korea. Tamu-tamu dilayani sejumlah anak buah kapal, seperti Bernadinus Egal (22), Vinsensius Afrianus Berno (19), Muhammad Natsir (45), Arman Maulana (27), Irenius G Phili (23), Asdar (39), dan Benyamin Nidua (40) di bawah kepemimpinan Nasrul.
Pengalaman menjadi kapten kapal wisata sejak tahun 2000, untuk kapal surfing dan diving, membawa Nasrul ke sejumlah lokasi eksotis di Nusantara. Ia menyebut perairan di Kepulauan Mentawai, Nias, Sumba, dan Rote sebagai lokasi-lokasi terbaik untuk melakukan aktivitas surfing.
“Tapi kalau untuk diving hanya di Komodo,” ujarnya mantap. Nasrul berargumen, sembari sesekali mengatakan perairan Komodo sebagai “paling istimewa,” hal itu menyusul kondisi terumbu karang yang relatif lebih sehat.
Keadaan arus, yang oleh sebagian orang dilihat sebagai kendala dan oleh sebagian lagi dianggap sebagai daya tarik, menurut Nasrul, tetap bisa dihadapi. Waktu jeda antarkondisi arus di sejumlah titik, dan sikap tidak meremehkan keadaan alam, menurut Nasrul, adalah dua kunci untuk menghadapi keliaran alam tersebut.
Maka, Adishree yang dibangun di Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan, pada 2015 langsung membawa kami ke titik penyelaman pertama di Sebayur Kecil pada Senin (28/8) siang. Dua dive master bernama Ardus Egitadeus (29) yang akrab dipanggil Egi dan Rudyansah (45) memandu kami menjalani check dive untuk memastikan segala aspek teknis penyelaman, termasuk kondisi fisik dan psikis, memenuhi syarat untuk melanjutkan kesenangan.
Egi yang berasal dari dataran tinggi Ruteng, Manggarai, NTT, dan sebelumnya menjalani aktivitas berkebun kopi di kawasan kaki pegunungan sebelum jatuh cinta pada laut berulang kali mengingatkan tentang aspek keselamatan. Dilengkapi gambar mengenai topografi dan arus bawah laut lokasi penyelaman yang direka Rudy, Egi yang berambul gimbal memberikan taklimat dengan gaya menghibur tanpa kehilangan esensi.
“Kita tahu Komodo banyak arus, kadang-kadang penyelam profesional mau coba. Ngapain kita menantang alam. Tolong ikuti rule,” kata Egi diiringi senyum. Maka itu juga yang kami jalankan selama menyelami empat titik selanjutnya. Masing-masing Shotgun dan Castle Rock pada Selasa (29/8) serta Batu Bolong dan Taka Makassar pada Rabu (30/8).
Banyak arus dan relatif kuat. Itulah yang kami rasakan dalam penyelaman di Komodo. Konsekuensinya adalah pengaturan waktu, menyusul momen dinanti tatkala arus bisa dijinakkan, dan tuntutan kekuatan fisik serta penggunaan udara yang relatif lebih boros.
Akan tetapi, tantangan itu terbayar dengan kekayaan dan keragaman biota laut yang dijumpai. Batu Bolong, yang juga disebut sebagai Aquarium Komodo oleh pemandu selam menjanjikan perjumpaan dengan berbagai jenis ikan berukuran besar yang cenderung diam saat dipotret.
Sebut saja misalnya ikan napoleon (Cheilinus undulatus) dengan ukuran sekitar 1 meter yang berenang tenang dan cenderung menanti untuk didekati dan diabadikan. Atau moral eel yang bersembunyi di balik karang dengan mulut bergigi yang membuka dan mengatup, serta meninggalkan kesan angker.
Juga ikan pari berduri bluespotted ribbontail ray (Taeniura lymma) yang menanti di dasar samudra. Tentu saja, beratus spesies terumbu karang turut menemani petualangan di dalam samudra.
Sesi penyelaman hari pertama dan kedua ditutup dengan trekking ke dua sisi berbeda perbukitan Pulau Gililawa Darat. Privilese untuk menikmati matahari terbenam dari dataran tinggi itu juga menjadi tujuan sejumlah pengunjung, sekalipun tumpukan dan ceceran sampah plastik terlihat di salah satu titik pulau dan di sebagian sisi pantai.
Tidak hanya wisatawan Indonesia, tetapi pengunjung dari sejumlah negara Eropa dan China turut mendaki perbukitan terjal, berbatu, serta penuh debu sebelum tiba di puncak. Sebagian langsung mengambil posisi duduk dan menyendiri menanti terbenamnya mentari, sebagian lagi berkelompok dan merayakan dengan sesi pemotretan, minuman, dan canda tawa.
“Kerja di laut ini harus lucu karena kalau tidak, akan bosan,” kata Egi. Bapak dua anak itu berkali-kali menitip pesan kepada kami agar orang-orang menjaga kelestarian terumbu karang di perairan Komodo sebagai jaminan keberlangsungan hidup industri pariwisata dan kehidupan orang-orang di kawasan tersebut.
Sementara dalam pelayaran dengan KLM Kalaki bersama Erwin (44) sebagai kapten kapal dan Basri (31) serta Anas (21) sebagai anak buah kapal yang sebagian tugasnya sebagai juru mudi dan juru masak, kami menuju mendarat di Pulau Komodo, Pulau Papagarang, dan Pulau Rinca. Ribuan kelelawar di sekitar perairan Pulau Kalong dan padatnya permukiman di Pulau Mesa yang dikelilingi mooring buoy penambat kapal.
Kami juga mampir sebentar ke perairan Pink Beach yang ramai dipenuhi wisatawan melakukan aktivitas snorkeling. Dinamai “Pink Beach” karena warna merah muda di sebagian pasir pantainya.
Warna yang berasal dari cangkang mikroorganisme foraminifera mati yang terbawa ke pantai dan bercampur bersama pasir dan patahan karang itu memesona orang-orang, untuk berjemur atau sekadar berfoto.
Jadi, apakah bisa liat komodo? Kemungkinan besar bisa, serta ditambah banyak yang lain.
(Ichwan Susanto/Antonius Ponco Anggoro/Ingki Rinaldi)
KOMPAS NEWSPAPER
Taman Nasional Komodo di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur berisikan kesenangan. Kesenangan di lautan. Kesenangan di daratan.

Dikutip dari Kompas edisi 19 November 2017

Bersiap Ikut Maraton



Penyanyi Andien berniat ikut Bank Jateng Borobudur Marathon 2017 di kawasan Candi Borobudur, di Magelang, Jawa Tengah, 19 November mendatang.

“Rencananya, sih, mau ikut yang 10 kilometer, semoga bisa karena aku mesti menyanyi dulu di acara pembukaan maraton. Setelah itu, menyanyi lagi saat peserta memasuki garis akhir. Semoga di sela-sela itu bisa ikut lari, he-he,” ujar Andien, Rabu (15/11), di Jakarta.

Oktober lalu, Andien bersama anaknya, Kawa, ikut maraton sejauh 10 kilometer. Persiapan Andien cukup serius waktu itu. Ia sampai ikut latihan maraton selama 1,5 bulan. “Aku sebenarnya enggak hobi lari, tetapi adikku, Diego Yanuar, mengajak ikut maraton. Ya, sudah aku coba saja dan ternyata lari 10 kilometer enggak terasa capek. Kami finis dengan waktu wajar. Kawa yang ditaruh di kereta dorong juga enggak rewel,” tuturnya.

Untuk mengikuti Borobudur Marathon 2017, Andien juga menyiapkan diri. Biduan yang baru melepas album baru berjudul Metamorfosa itu akan melihat kondisi jalan yang akan dipakai sebagai lintasan maraton. “Kalau memungkinkan, ya, ikut lari,” kata Andien yang akan mengajak suaminya, Ippe; juga Kawa dan Diego untuk ikut maraton yang digelar Bank Jateng dan harian Kompas itu. (TRI)

Dikutip dari Kompas edisi 17 November 2017